Friday, April 17, 2009

JANGAAAAAAAN!!!!!!!

Yeah...JANGAN!!!

Itu kata pertama yang diteriakin sama mas-mas tukang jaga Flying fox-nya!
Jadi ceritanya, tadi malem, di Lapiaza kan ada maenan baru nih...Flying fox, di deket main hal.
Dea ngajakin gwa ma Firina (pacar Boyi, sepupu gwa, yng aaknya mimi, yang kakaknya mama, yang ngeband, yang ganteng, yang itu deh,,,) buat main FFX. Tapi Firina udah duluan, jadi gwwwa ma Dea berdua deh yang maen.

Sampe sana, Dea tanya, berapa maksimal berat yang boleh maen, kata mas-masnya 100kg.
Otomatis, gwa langsung teriak...assssiiiiiik...gwa bisa naek dunk!
Tiba-tiba, mas-masnya teriak juga...eeehhhhh JANGAN!!!!
keke : Napa jangan?
Masnya : maksimal 100 kg itu mbak.
keke : lha iya, saya 85kg, berarti boleh kan?
masnya : Ah gak mungkin, mbaknya pasti diatas se-kwintal.

HAAAAAHHHHHHHHHHHH di abilang gwa diatas SEKWINTAAAAAAALLLL?????
SAUS TAR-TAR...KUDA LAUT...KEPITING REBUS!!!!!!!!!!!!!
(kata-kata kotor versi SPONGEBOB!

Akhir kata...say tak dapat memainkan FFX di Lapiaza pada malam itu!
Gara-gara mas-mas yang matanya rada Picek, gak bisa bedain mana montog, mana gendut!!!
Dikirain gwa gendut...
Awas lu MASSS...................

Monday, April 13, 2009

Facilitac Di Cilembey...

Apa saja yang bisa kamu temukan di Cilember Curug7, ciawi, Puncak?????

- Cafe dedaunan yang keren banget. Harga minuman 4rb-8rb (teh, kopi, susu coklat, jus, dll)
Makanan 5rb (roti bakar) 8rb-12rb (Nasi goreng, dll) MURAH GILAAAA

- Villa kayu artistik 750rb-900rb untuk 20-30 orang.

- Outbound yang tempaynya di tengah hutan, seru banget!!!!

- Bisa nginep, sewa tenda. YUP, Bisa CAMPING!!!!!!!!!!!!!

- Ada kubah kupu-kupu yang keren banget di dalem...

- Ada warung-warung jagung bakar yang suasananya dapeeeet banget!!!!!!!!!!!!

- Ada juga 7 mata air terjun, Tapi jalannya jauh...hehehe...

- Ada juga warung-warung juak souvenir!!! Nawar yang pinter yah???

- SO PASTI ada VIEW yang bagus banget buat ber-Narsis ria!!!!!!!!!!!

masih di jendela


Iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...................

Hehehehe

Cuma narsis bareng adek gwa Dea!!!

Bah-Pu


Niiiiiii........ di kubah kupu-kupu di Cilember juga....

Teras villa

Niiiiii.................di teras villa, tempat kita makan".

Nice Rite???

Ni Di lantai2 lho...bawah tu dah taman-taman...

Jendela villa


Ni Di jendela terbuka, di ruang makan Villa!!!!Keren bukan????

What a Life...

Cilember Curug7...

Kedengerannya gak enak yah???
Kurang seru???

Denger niii.....
Kemaren, tgl 12 April 09, Gwa, mama, Ichal, Dea, Karin kesana...

Awalnya...biasa mama, pengen jalan ke alam-alam, tapi gak tau meu kemana. Trus mam ngajak ke Bogor...Oke, kita berangkat, ambil jalan lewat tol. Eh...bukannya keluar kiri ke Bogor, mama malah lurus kearah puncak.

Katanya, pengen ke tempat yang beda aja. Kebetulan adek gwa Manda, pernah promosi Cilember ke mama. Mama pengen coba.
Kita tanya-tanya orang, akhirnya ada juga yang maw anter, kita bayar 20rb duank...

VIVA pak ojek yang maw baik hati anter kita ke Cilember pake motor, walopun lagi ujan deres banget.

Sampe juga kita kesana ujan-ujan....

Begitu kita sampe, gwa cuman bisa bilang.....Ouw My Dear God....
This Place Is A Heaven.....

Pertama, kita masuk ke cafe-nya dulu....kayu-kayu, ada rak-rak yang dipajang hasil karya tembikar, bagus banget deh.

Tapi karena cafe rame, kata mas"nya kita boleh ambil tempat di Villa aja...pesen makanan dari sana...

Perasaan gwa...mana villanya, di belakang" cafe cuman keliatan pohon-pohon n kaya ada suara aliran sungai gitu. Akhirnya mas-nya anter kita kedalem...

Ternyata...KEREN banget...kita lewat jembatan kecil, yang bawah n kanan-kirinya aliran sungai kecil gitu...

Trus kita masuk ke villa yang sumpah...keren banget, kayu gitu....Trus dirambati daun" rambat, Back 2 nature, Art n Happy Life...

Lw semua harus coba kesana.




Perasaan gwa...mana

Tuesday, April 07, 2009

Si India Ganteng...

Aduh ya ampuuuuuunnnnn....
Gwa kok bisa suka banget yah, ma cowo-cowo InBul alias blasteran India bule AND ArBul alias blasteran Arab bule.

Jadi MACHOnya dapet dari arab n Indianya, OKEnya dapet cari bulenya...ADUuuuuhhhh...

Kaya, pemeran Mohinder Suresh di HEROES, ato yang jadi pemeran utama di Accidental Housband (JEFFREY DEAN MORGAN)...
OUwEmJi..Ganteng khan...

Apalagi, cowo-cowo gitu khan sukanya cewe yang montog n seksi abiez kaya gwa gene...yaw yaw yaw...???

Ahahahah...

Maw bilang gwa kepedean? Emang iyah...
Orang kalo gak pede, gak IDUP!!!
Mending Pede, daripada rendah diri!!!

Tips Diet Yang Buruk dan Salah.

Jika anda adalah sesorang memiliki kelebihan berat badan, atau anda sudah kurus, tapi ingin lebih kurus, supaya terlihat seperti Paris Hilton yang anoreksia...Beginilah cara-cara Diet yang Buruk dan Salah...

1. PAGI : Sarapan tetap penting, tapi usahakan anda hanya menyantap sepotong roti tanpa isi, atau jus. Anda harus bisa berusaha menahan lapar!!!

2. SIANG : Nasi tetap penting. Tapi ambillah hanya 2 sendok makan nasi saja!!! Jangan lebih. Tapi karena pagi tadi sarapan hanya roti sepotong, anda merasa lapar sekali, maka anda mengambil 3 sendok nasi tambahan lagi. dalam pikiran anda "Ini untuk gantinya sarapan tadi..". Dan lalu, lauk yang dimasakkan ibu anda sangatlah enak, maka anda menambah 4 sendok nasi lagi. Dalam pikiran anda "Ini untuk makan malam nanti. Jadi nanti malam saya tidak akan makan apapun. Suuuwweeerrr!"

3. SORE : Anda tidak boleh jajan di sore hari. Anda harus bisa mengontrol nafsu makan anda. Namun, teman anda mengajak anda makan di sebuah cafe, yang mahal, sangat enak, ditraktir pula. maka anda menyetujuinya, dan anda makan sore enak. Dalam pikiran anda "Ah, gpp deh sekali-sekali, besok saya tidak akan makan sama sekali kalo perlu.".

4. MALAM : Makan malam adalah hal paling tabu dalam dunia dieters!!! Jangan sekali-sekali anda berani makan malam. Namun, adik anda dan pacarnya barusaja pulang dari kencan pertama mereka, dan sang pacar ingin membuat kesan baik di keluarga anda, maka ia membawakan martabak tebal oke dengan berlapis keju lezat kerumah. Maka anda terpaksa makan, karena gak enak sama yang bawain.

Sekian tips dari saya, semoga berhasil!!!!!!!!

CaiYO!!!!!!!!!!!!!!!!!

Saturday, April 04, 2009

sad + sad = sosososo saaaad

Emang enak punya temen lama yang bisa diajak berbagi. Cerita-cerita waktu gwa lagi sedih banget.
Hari ini gwa lagi sedih banget. Karena sesuatu yang gwa gak bisa bagi disini. Intinya, gwa lagi ngerasa bener-bener kangen ma seseorang yang udah lama gwa gak ketemu. Gwa pengen banget bisa ketemu dia lagi. Terakhir kali kita ketemu, gak enak banget. Kita putus pun karena satu hal yang gak enak. Tapi gwa tau gwa harus putus sama dia. Walaupun sekarang kangen gwa kerasa gak enak banget, nyiksa banget.
Bukan cuma itu. Masalah ada lagi yang dateng. yah...kalo gak ada masalh, bukan manusia namanya.

Baidewei...sekarang gwa lagi di warnet nih...gwa lagi pengen jalan sendirian ke mall. Jalan aja, ngelepas penat, sambil cari-cari kemeja lucu buat kerja...
Itu juga gak tau jadi ato gak...kok jadi males yah gwa jalan sendirian....
Udah PeWe di warnet nih...Paling-paling, berlama-lama di warnet, trus minum es teler enak di deket sini...trus pulang deh!!!

Hope that i can sleep tight tonite, without remembering all sad things runnin' 2 me lately!

Friday, April 03, 2009

Gadis Bernama Diana

Lagi-lagi sepi. Mataku menyelidik ke jendela-jendela rumah itu, mungkin ada satu atau dua wajah terlihat dibalik kelambunya yang hanya tertutup sebagian, tapi tetap tak terlihat apa-apa.
1 bulan yang lalu, rumah tua yang telah berpuluh-puluh tahun dibiarkan kosong itu, akhirnya dihuni oleh keluarga Adri Suryo. Hanya itu informasi yang kutahu tentang mereka. Tak ada yang lain. Sejak itu, sampai sekarang saja, tak pernah kulihat seorangpun keluar masuk rumah itu. Aneh kan?
Bukan hanya aku yang penasaran, kedua sahabatku, Siska dan Dilla juga sama penasarannya denganku. Hampir setiap sore kami berkumpul di rumah Dilla, mengamati sudut-sudut rumah itu dari jendela kamar Dilla, yang berada di lantai 2. Berusaha mencari sedikit saja tanda kehidupan di dalam rumah aneh itu. Tapi kami tak pernah berhasil. Padahal menurut gossip yang beredar di komplek ini, di dalam rumah itu, tinggal sepasang suami istri dengan 6 orang anak.
Harusnya kan anak-anak itu pergi sekolah, atau paling tidak, terdengar suara-suara candaan mereka. Tapi sama sekali tak ada tanda-tanda kehidupan disana.
Sampai tadi malam, saat Dilla bangun tengah malam, ia mendengar sayup-sayup suara anak perempuan berkata "Ayo ayah, cepat." Suara itu terulang berkali-kali. Tapi tampaknya Dilla cukup pintar untuk kembali ke tempat tidurnya saja, daripada melihat keluar jendela, apalagi mendatangi asal suara. Seperti cerita-cerita di film horor, saat hantunya muncul, sang pemeran utama justru mencari, mendatangi mereka.
"Tak tampak ada siapapun disana!" Kataku pada Dilla.
"Tak mungkin, aku dengar sendiri tadi malam, ada seorang anak perempuan disana." Dilla tetap ngotot. "Iya, tak ada siapapun disana. Mungkin itu suara orang lain, dari rumah lain." Siska ikut berdebat. "Heyyy...di blok ini, cuma kita bertiga remaja perempuannya. Tak ada lagi." Dilla mendebat lagi. "Mungkin Hani, anaknya bu Salimah." Kataku asal. "Hani kan baru berumur 2 bulan. Ngaco kamu...hahahaha." Dilla dan Siska tertawa.
Tapi setelah kupikir-pikir, benar juga ya...remaja perempuan di blok ini hanya aku, Siska dan Dilla. Tak mungkin juga kan Dilla mendengar suara anak perempuan dari blok sebelah.
Maka, dengan segala rasa penasaranku, aku bertekad untuk begadang malam ini, mengawasi rumah itu dari kamar kak Doni di lantai 2. Kamarku di lantai bawah, tak mungkin terlihat. Kak Doni sedang ditugaskan ke Bandung selama seminggu. Aku bisa menempati kamarnya.

***

Kulihat lagi jam dindingku, sudah pukul 12.30 malam, tapi belum ada tanda-tanda apapun. Padahal jendela kamar juga kubuka, supaya suara-suara dari luar lebih mudah terdengar. Mataku sudah hampir tertutup rapat. Belum pernah aku terbangun sampai selarut ini sebelumnya.
Tiba-tiba dari luar kudengar "Ayo ayah, cepat." Awalnya suara itu terdengar sayup, lama kelamaan, rengekan seorang anak perempuan kepada ayahnya itu pun terdengar jelas juga. Pelan-pelan kulihat kearah rumah itu, kulihat kearah teras rumahnya, tak ada siapapun. Di jendela-jendelanya pun tak tampak apapun. Tapi suara itu masih jelas terdengar. Pelan-pelan ku cari lagi asal suara itu.
Saat aku mendongak keatas, "Ya TUHAN!!!" Hatiku sontak berteriak, tapi mulutku tak dapat berkata apapun. Cepat-cepat kututup jendela, serta kelambunya, lalu kunyalakan semua lampu yang ada di kamar, aku melompat ke tempat tidur, lalu kutarik selimutku menutupi wajahku.
Terus kucoba menghubungi Dilla lewat HP-nya, tapi tak diangkat. Aku takut dibilang gila, itu sebabnya aku ingin Dilla juga melihat kearah rumah itu. Aku juga ingin tahu apakah ia melihat apa yang kulihat. Setelah beberapa jam dalam ketakutan, akhirnya bisa juga aku tidur, walaupun tak nyenyak, karena rengekan anak perempuan itu terus terngiang di telingaku.

***

"Dilla!!!" Teriakku kencang, memanggil Dilla yang tampak berdiri di depan kelasnya. Dilla langsung menoleh padaku, ia lalu datang padaku cepat-cepat. "Ada apa sih Mona???" Tanyanya agak kesal. Kuajak Dilla ke taman belakang kelas.
"Aku percaya apa yang kau bilang tempo hari." Kataku sangat serius.
"Yang mana?"
"Tentang suara anak perempuan di rumah itu. Semalam aku begadang, mengawasi rumah itu."
"Apa? Lalu, apa yang kau lihat?"
"Sebelumnya, janji kau tak akan bilang aku gila!"
"Iya, katakan!"
"Aku...melihat...anak perempuan itu."
"Benarkah? Dia seumuran kita kan?"
"Ya, kurasa dia seumuran kita, dia juga cantik, tapi kurasa...kurasa...uuummmm..."
"Apa Mona, bilang."
"Kurasa dia sudah mati Dilla!"
"APA??? Kau ini berkhayal ya? Apa sih maksudmu Mon? Sebenarnya apa yang kau lihat?"
"Kulihat anak itu menarik lengan ayahnya, memaksa ayahnya mengikutinya...di...di atas atap rumah itu. Tapi ayahnya terus menggelengkan kepalanya sambil menangis. tak berapa lama, anak perempuan itu jatuh ke bawah, lalu menghilang!"
"Apa? Jatuh, lalu menghilang? Aku..aku...aku tak tahu harus berkata apa Mon."
"Kau kira aku gila kan?"
"Bukan begitu...masalahnya, aku juga melihat hal yang sama, hanya saja...aku tak melihat bagian anak itu jatuh. Aku hanya melihatnya menarik lengan ayahnya di atas atap. Aku tak berani melihat kelanjutannya."
"Apa? Kenapa kau bilang..."
"Ya...Aku cuma tak ingin membuat kau dan Siska takut."
"Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu Dil?"
Tiba-tiba, bel masuk sekolah berbunyi, kami harus kembali ke kelas kami masing-masing.
"Jangan bilang apapun pada Siska. Ia yang paling penakut diantara kita."
"Ya, aku tahu."
"Kau temui aku disini lagi, sepulang sekolah nanti, kita akan pergi kerumah itu."
"A...apa? Kita apa? Eh...eh...mau kemana kau?"
Belum sempat Dilla menjawab, ia sudah buru-buru pergi.

***

"Cepat Monaaa...!" Dilla menarik kuat tanganku. Walaupun hari masih siang, tetapi suasana di rumah tua ini tetap mencekam. Aku sempat merasa ragu, tapi Dilla terus memaksa. Kupikir, tidak ada salahnya juga. Toh tidak akan terjadi apa-apa di siang hari bolong seperti ini.
Cepat-cepat kami buka gerbang depan, yang hanya diganjal sebatang kayu di gagangnya. Gerbang itu tampak sangat rusak, berkarat, sehingga menghasilkan bunyi "Ngiiiik.." yang sama sekali tidak enak didengar. Kami lewati halaman rumah yang lumayan luas itu dengan sedikit berlari sembari melihat kanan kiri. Kami takut kalau sampai tetangga lain melihat.
Bentuk rumah ini sebenarnya bagus, bukan model rumah tua berhantu seperti yang ada di film-film horor. Hanya saja catnya kering dan mengelupas, halamannya sudah banyak ditumbuhi rumput liar, dan temboknya sudah banyak ditumbuhi tanaman rambat liar. Itu yang menbuat rumah ini terlihat seram, apalagi di malam hari.
"Tok tok tok!" Dilla mengetuk pintu depan, tanpa meminta persetujuan dulu padaku. Berani sekali dia. "Sebenarnya untuk apa sih kita kemari? Aduh, aku menyesal mendengarkanmu!" Kataku panik. "Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini Mona." Kata Dilla sambil berusaha mengetuk lagi.
Tiba-tiba dari dalam terdengar suara seorang anak perempuan "sebentar!". Suaranya mirip sekali dengan suara anak perempuan yang aku dan Dilla lihat. Jangan-jangan memang dia? Bulu kudukku mulai berdiri. Aku tak berani lagi bicara apa-apa. Dilla juga tampak takut. Ia diam saja. Kami berpandangan, seolah mengatakan "Kita saling jaga ya, jangan takut!"
Pelan-pelan pintu terbuka. Benar saja, yang kami lihat itu anak perempuan yang sama seperti yang terlihat di atas atap tadi malam. Hanya saja, yang ini tampak beberapa tahun lebih tua. Aku dan Dilla diam, tak berani bicara apapun. Kurasa kami berdua membeku ketakutan.
"Selamat siang, kalian mencari siapa ya?" Anak perempuan itu tersenyum ramah. Tapi tetap saja kami takut setengah mati. "Heii...!" Anak perempuan itu berkata lagi, sambil melambaikan tangannya di depan hidung kami.
"Eeemmm...maaf, kami...kami...mmmmmau." Dilla memberanikan diri bicara, walaupun terbata-bata. Namun belum sempat Dilla menyelesaikan kalimatnya, anak itu berkata lagi "Kalian telah melihat dia bukan?" Kali ini, raut wajahnya berbeda.
Lagi-lagi aku dan Dilla hanya bisa saling berpandang ketakutan. Tapi dari kata-katanya, tampaknya anak itu tahu bahwa kami telah melihat kejadian itu. Tapi anak itu menyebutnya "dia", berarti bukan dirinya sendiri? Lalu siapa yang berhadapan denganku, dan siapa anak perempuan diatas atap itu? Wajah mereka persis sama. Apa mungkin mereka...
"Mari, silahkan masuk, akan kujelaskan didalam." Anak itu mempersilahkan kami masuk kedalam rumahnya, yang ternyata sangat bersih, teratur dan indah. Berbeda sekali dengan bentuk luarnya. Kami pun duduk di sofa minimalis berwarna khaki. Masih ada rasa takut, namun rasa penasaranku mengalahkan segalanya, lagipula kurasa anak ini ramah dan yang lebih penting...dia hidup. Ia berjalan menapak, dan tubuhnya berbayang di tembok.
"Umm...Maaf kalau kami mengganggu. Kita bertetangga. Rumahku di seberang, nomor 2 dari kiri, dan rumah temanku, tepat di depan rumah ini. Aku Mona, dan dia Dilla."
"Yah, aku tahu, aku sering melihat kalian keluar bersama, berangkat sekolah bersama, aku iri pada kalian." Kata anak itu pelan, tetapi senyum kecilnya tetap mengembang.
"Sebenarnya kami kemari karena kami berdua melihat seorang anak perempu..."
Belum sempat Dilla menyelesaikan kalimatnya, anak itu menyahut.
"Anak perempuan yang wajahnya sama sepertiku, sedang menarik-narik ayahnya, sampai akhirnya dia terjatuh, lalu menghilang kan???"
"Ya...Maaf, tapi memang itu yang terjadi, kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini. Mengapa kamu tak pernah melihat aktifitas apapun dari rumah ini?"
Dilla lalu memberondongnya dengan pertanyaan.
"Aku Gadis, anak perempuan yang kaulihat itu, saudara kembarku Diana."
Ia lalu diam, memandangi kami dengan wajah sendu. Kami pun diam, menunggunya melanjutkan ceritanya.
"Diana meninggal 3 tahun yang lalu. Ia lompat dari atap rumah kami di Surabaya waktu itu. Orang tua kami tak pernah peduli pada kami. yang mereka lakukan hanya bekerja setiap saat, setiap waktu. Memang kami dapat semua yang kami inginkan, tetapi kami tak pernah bahagia. Aku lebih kuat dari Diana, aku masih bisa tersenyum. Tapi Diana tumbuh menjadi anak yang kesepian, pendiam, bahkan cenderung aneh. Ia suka sekali berbicara sendiri, di sekolah, dimana saja. Di sekolah ia menjadi bahan ejekan teman-teman." Ia berhenti lagi, matanya berkaca-kaca.
"Hampir 4 tahun lalu, ia divonis menderita ganguan jiwa, dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Ia berada disana sekitar 9 bulan, sampai tanggal 2 April 2006, di hari ulang tahunnya, ia minta pulang kerumah. Ia bilang, ia ingin bersama ayah dan ibu satu hari saja. Aku yang hampir setiap hari menemaninya melewati hari-hari sepi di RS Jiwa, ingin sekali membantunya. Aku berusaha menghubungi ayah dan ibu, tapi tak satupun yang bersedia pulang untuknya. Bagaimanapun, ia tetap pulang, namun tanpa sepengetahuanku, ia mengirimkan pesan singkat pada ayah dan ibu lewat hp. Ia bilang 'kalau ayah dan ibu tidak pulang sampai jam 12 nanti malam, Diana mau bunuh diri saja. Setelah Diana mati, Diana ajak ayah dan ibu juga ya.'. Ayah dan ibuku mengira, itu hanya bagian dari kegilaannya saja. Mereka benar-benar tak pulang ke rumah. Dan Diana pun benar-benar melompat dari atap rumah kami, tepat pukul 12.30 malam. Petaka tak berhenti sampai disitu, 3 hari setelahnya, ia kembali kerumah, mengajak ibu ke atap, lalu melompat juga. Ibuku juga meninggal."
"Kenapa ia tak menolak ajakan Diana? Seperti yang dilakukan ayahmu." Tanya Dilla penasaran.
"Mungkin karena rasa bersalahnya. Ibuku menjadi setengah gila setelah Diana meninggal."
"Lalu apa yang terjadi dengan ayahmu?" Dilla terus bertanya.
"Ia masih ada, tetapi sama juga, ia stres, namun ia masih cukup sadar untuk menolak ajakan Diana. Hampir setiap malam Diana datang padanya. Terkadang ia diam saja, terkadang ia ikut ke atas atap, hanya menunggu waktu saja sampai ayah benar-benar ikut melompat. Kami sudah mencoba pindah rumah ke Malang, ia masih mengikuti kami, membuat tetangga kami yang melihat kejadian atap itu ketakutan setengah mati, sampai akhirnya memprovokasi masyarakat untuk mengusir kami. Hanya 7 bulan kami tinggal di Malang. Begitu pula yang terjadi di Semarang, Bekasi, dan sekarang disini. Kami tahu kami tak akan pernah bisa bertahan dimanapun lebih dari 9 bulan."
"Lalu bagaimana dengan cerita orang bahwa di rumah ini sebenarnya tinggal sebuah keluarga dengan 6 orang anak?" Tanyaku padanya. "Yah...cerita berbeda di setiap tempat. Kami berdua hidup dari uang deposito ayahku. Ia tak pernah lagi bekerja, apalagi keluar rumah. Ia hanya bisa menangis. Aku pun malu menghadapi masyarakat. Apa yang harus kukatakan tentang keluargaku? Kami tak pernah keluar rumah, mungkin itu sebabnya mereka mulai mengarang cerita tentang kami."
"Begitu...Mmmmm...kurasa aku ingin membantumu. Aku ingin menjadi temanmu. Begitu juga Dilla. Iya kan Dill?" Aku berkata terus terang. Tapi Dilla tampak tak setuju, raut wajahnya tampak tak suka dengan ide ini. Berbeda dengan Gadis, ia tampak senang. Mungkin ini pertama kalinya ia punya teman, selain Diana, sejak beberapa tahun terakhir ini.

***

Seharian, yang kupikirkan hanya Gadis, Diana, dan tragedi yang menimpa hidup mereka. Tapi aku senang karena mulai saat ini, aku bisa menjadi temannya. Walaupun tak sepenuhnya membantu menyelesaikan masalahnya, dan mungkin aku masih akan sering melihat Diana di atas atap rumahnya, setidaknya Gadis punya seorang teman yang bisa ia ajak berbagi.
Ohhhh...Hari ini sangat melelahkan, kurasa ini saatnya aku tidur. Kurebahkan badanku diatas tempat tidur, kutarik selimutku sebatas dada. Lalu sayup-sayup kudengar langkah kaki dari arah pintu kamarku, aku berbalik ke kanan...wajahnya...seperti mirip Gadis, hanya beberapa tahun lebih muda. Nafasku terhenti, aku tak bisa berucap sepatah kata pun.
"Kurasa, kau bisa menyusul setelah ayahku. Karena kau berusaha merebut saudaraku!!!"

***

Wednesday, April 01, 2009

Lemot campur sedikit bodoh

Sejak kemaren, keluarga gwa resmi punya pembantu baru. Kita sebut saja dia si Mbak!!!
Si Mbak baek banget, udah gitu rajin. Dia baru mulai masak hari ini.
Pagi-pagi dia udah nanya gwa mau belanja apa. Jadi begini percakapan gwa...

Si Mbak : Non, mau masak apa hari ini?
Keke : Gak tau, terserah mbak aja. Kita makan gak milih-milih kok!
Si Mbak : Kalo masak semur aja gimana non?
Keke : Yaudah, gpp. Kita suka juga kok.
Si Mbak : Semur bumbunya apa non???
HIYAAAAAaaaaa.....Katanya bisa masak? Otomatis kaget kan gwa!!!
Keke : LHOooo...aku gak tau mbak! Katanya Mbak bisa masak?
Si Mbak : Ya bisa sih...
Keke : Trus kenapa tanya???
Si Mbak : Ya gak apa-apa. Nanya aja. Yaudah, mbak mau belanja dulu ya non.

Waaahhhh...gak beres nis si Mbak gwa! Rada stres, bikin gwa ikutan stres!!!
Tapi lucu juga seeh kalo dijadiin bahan inget-ingetan buat refreshing!!
Aduh, gila!

Ngomong" soal gila, gwa jadi inget Manda. Adek gwa satu ini lemot banget, susah paham omongan orang, dan suka ketawa belakangan setelah orang laen selesai tertawa, alias telat DONG-nya!!!

Jadi suatu hari, tetangga gwa depan rumah, temen" kita bakar" ayam. Salah satu dari mereka, namanya Coronk kerumah, ngajakin Manda. Trus Manda nanya, begini ceritanya...
Manda : Ronk, kok bakar" baunya gak harum sih?
Coronk : Gak tau tuh. Mungkin arengnya bau minyak tanah.
Manda : Emang supaya bakarannya enak, arengnya dibakar pake apaan?
Coronk : Pake OLI!!!
MAnda : Ooooo...
Dengan sigap melangkah, tanpa kenal ragu, Manda jalan, nyamperin anak" yang lagi pada bakar".
Manda : Eh guys...supaya enak, bakarnya pake oli aja!!!!!!!!!!!!
HWwahahahaha...
Otomatis anak-anak pada ketawa dunk! Trus dengan tampang polosnya, Manda cuma bisa...
Manda : Apa sih...??? Eh Apa siiiihhh???

Yak, itulah Manda, adikku yang lumayan bikin rame rumah!

Mahal mahal mahal

Ouw...akhirnya belanja juga!!!
Gw beli baju n rok buat kerja kemaren...

Baidewei,barusan, gw bayar listrik. Rp.345.000,- lho!!! Heran juga gwa, buat apaan aja kok bisa se mahal itu. Perabotan berlistrik di rumah gwa :
- AC
- Fan di kamar Manda
- TV
- Computer
- Kulkas
- Tape
- Mesin cuci
- Setrika
- Dispenser
Udah itu doang! yang nyala lama paling cuman tape, kulkas n dispenser.

Biaya hidup tambah lama tambah mahal! Untung aja gwa udah dapet kerjaan.
Jadi gwa bisa bantu orang tua...(Cuuuuiiiiiihhhhh)

Monday, March 30, 2009

Adikku Yang Baik Hati...

Jose oh Jose...
Hari ini gwa bete banget dirumah, gak ada kerjaan!!!
Oooops...ngomong-ngomong soal kerjaan...GOOD NEWS...
Gwa dapet kerjaan di kantor nyokap...Back 2 the uld days...secara dulu sempet kerja 2 taun disana...
Sengsi seeeeh...Tapi gpp deh, yang penting kerja cari duit!!!
Buat beli High Heels, Tas (Balenciaga yang gwa pengen banget) Gak tau nabung berapa taun baru dapet.Hehehe!
Doain aja yah sodara-sodara sekalian, supaya gwa gak gampang bosen kaya dulu lagi!!!

O iya, Jose...
Critanya, sambil nunggu masuk kantor, gwa sementara Home Stay dulu kan...
Maksudnya stay home hehehe...biar keren, daripada "nganggur"...
Lha...gwa kan bosen banget tuh dirumah...tanpa disangka dan dikira-kira...Jose adek gwa yang paling bengal, pelit n tak terduga bandelnya, ngajakin gwa ke warnet, DIBAYARIN...
Hwahahaha...
senang bukan kepalang dong gwa!!!

Gwa tanya tuh ma dia...
Keke : Jose adikku...napa sih hari ni baek banget ma aku???
Jose : Aku mau UAN mbak...biar amalnya banyak, dibantu Sholat, supaya aku bisa lulus mbak...

TOwEOwEOwEOwEONG...

Capek yah...
Powered By Blogger